Tuesday, January 20, 2026

Cerpen Siswa (Kaisan Althaf Farand)


 PULIH

by: Kaisan Althaf Farand


      Dulu, di sebuah desa yang tenang, tinggallah seorang anak bernama Kazhelta Fitrand Darsa, atau yang akrab dipanggil Kai. Ia dikenal sebagai anak yang ambisius dan imajinatif. Menulis cerpen, bercerita, dan berpidato adalah dunianya. Bahkan, ia pernah menjuarai lomba pidato di desanya—sebuah kebanggaan kecil yang menguatkan mimpinya.

      Namun, alasan Kai begitu mencintai cerita bukan semata karena prestasi. Ada satu sosok yang selalu setia mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan, menuliskan mimpi bersamanya, dan menjadi rumah bagi segala imajinasinya. Sosok itu bernama Ratu, sahabat kecilnya.

    Suatu hari, Ratu mengikuti lomba menulis cerpen. Ia datang dengan penuh harapan, namun pulang dengan kekecewaan—gagal juara hanya terpaut dua poin. Semangatnya runtuh. Di saat itulah Kai hadir dan berkata,
“Semangat dong. Kita menulis bukan karena tepuk tangan atau pujian, tapi karena ini memang bagian dari diri kita sejak kecil. Lomba itu pengalaman, bukan akhir.”

        Lalu, Kai mengucapkan kalimat yang kelak menjadi napas hidup Ratu:
“Terkadang, bahasa bukan hanya kata-kata. Ia adalah cara kita mengekspresikan hati. Rumah kita. Seperti dirimu—kamu adalah tempatku pulang. Dan semua cerita yang kita tulis adalah saksi persahabatan kita.”

Sejak hari itu, mereka berjanji untuk bersahabat selamanya.

        Namun waktu selalu punya cara kejam untuk memisahkan. Desakan keluarga membawa mereka ke kota yang berbeda. Awalnya terasa biasa saja, hingga Kai menyadari dunia menjadi sunyi. Tak ada lagi yang menunggu ceritanya, tak ada senyum yang menguatkannya. Perlahan, penanya berhenti menari. Kai pun bekerja di sebuah kafe, sekadar bertahan hidup, bukan lagi hidup dengan mimpi.

     Hingga suatu hari, di tengah kesibukan melayani pelanggan, pandangannya terpaku pada seorang perempuan. Wajah itu terlalu familiar. Dengan ragu, ia bertanya. Dan benar itu adalah Ratu.

       Pertemuan itu terasa seperti keajaiban. Mereka berbincang hangat. Ratu menanyakan apakah Kai masih seorang penulis atau bukan. Jawabannya singkat, nyaris tak bernyawa.
“Bukan”.

Ratu menatapnya lama.
“Kamu sudah terlalu jauh, Kai. Kembalilah. Jadilah dirimu sendiri. Kamu boleh kehilangan orang lain, tapi jangan dirimu sendiri.”

     Ratu lalu mengajaknya ke sebuah tempat. Di sana tersimpan naskah-naskah lama mereka, rapi, utuh, seolah waktu tak pernah menyentuhnya. Mereka bernostalgia. Ratu tersenyum dan berkata,
“Kamu dulu yang paling ambisius, ingat? Kalimatmu itu aku tulis di buku ini. Itu yang membuatku terus menulis.”

       Namun setelah hari itu, Ratu menghilang. Kai mendatangi alamat yang Ratu berikan. Seorang ibu membuka pintu. Saat Kai bertanya tentang Ratu, sang ibu menangis. Dari sanalah kebenaran menghantamnya: Ratu telah meninggal tiga tahun lalu.

        Kai terdiam. Segala pertemuan itu tak masuk akal, namun hatinya mengerti. Ratu datang bukan untuk kembali, melainkan untuk mengingatkannya. Ia ingin Kai pulang pada dirinya sendiri. Pada mimpi yang pernah hidup.

        Akhirnya, Kai kembali menulis. Ia menerbitkan sebuah buku berjudul Pulih, kisah tentang persahabatannya dengan Ratu, tentang seseorang yang selalu membuatnya bangkit dari kejamnya dunia. Ia menuliskan nama penulisnya sebagai Kazhelta Ratu Darsa, agar Ratu selalu hadir di setiap langkahnya. Dan pesan itu pun abadi di halaman terakhir:

“Bahasa bukan hanya sekadar kata, melainkan cara kita mengekspresikan isi hati.”

“Kamu boleh kehilangan orang lain, tapi jangan dirimu sendiri.”

No comments:

Post a Comment

Cerpen Siswa (Kaisan Althaf Farand)

  PULIH by: Kaisan Althaf Farand        Dulu, di sebuah desa yang tenang, tinggallah seorang anak bernama Kazhelta Fitrand Darsa , atau yang...