PULIH
by: Kaisan Althaf Farand
Namun, alasan Kai begitu mencintai cerita bukan semata karena prestasi. Ada satu sosok yang selalu setia mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan, menuliskan mimpi bersamanya, dan menjadi rumah bagi segala imajinasinya. Sosok itu bernama Ratu, sahabat kecilnya.
Sejak hari itu, mereka berjanji untuk bersahabat selamanya.
Namun waktu selalu punya cara kejam untuk memisahkan. Desakan keluarga membawa mereka ke kota yang berbeda. Awalnya terasa biasa saja, hingga Kai menyadari dunia menjadi sunyi. Tak ada lagi yang menunggu ceritanya, tak ada senyum yang menguatkannya. Perlahan, penanya berhenti menari. Kai pun bekerja di sebuah kafe, sekadar bertahan hidup, bukan lagi hidup dengan mimpi.
Hingga suatu hari, di tengah kesibukan melayani pelanggan, pandangannya terpaku pada seorang perempuan. Wajah itu terlalu familiar. Dengan ragu, ia bertanya. Dan benar itu adalah Ratu.
Namun setelah hari itu, Ratu menghilang. Kai mendatangi alamat yang Ratu berikan. Seorang ibu membuka pintu. Saat Kai bertanya tentang Ratu, sang ibu menangis. Dari sanalah kebenaran menghantamnya: Ratu telah meninggal tiga tahun lalu.
Kai terdiam. Segala pertemuan itu tak masuk akal, namun hatinya mengerti. Ratu datang bukan untuk kembali, melainkan untuk mengingatkannya. Ia ingin Kai pulang pada dirinya sendiri. Pada mimpi yang pernah hidup.
Akhirnya, Kai kembali menulis. Ia menerbitkan sebuah buku berjudul Pulih, kisah tentang persahabatannya dengan Ratu, tentang seseorang yang selalu membuatnya bangkit dari kejamnya dunia. Ia menuliskan nama penulisnya sebagai Kazhelta Ratu Darsa, agar Ratu selalu hadir di setiap langkahnya. Dan pesan itu pun abadi di halaman terakhir:
“Bahasa bukan hanya sekadar kata, melainkan cara kita mengekspresikan isi hati.”
“Kamu boleh kehilangan orang lain, tapi jangan dirimu sendiri.”
No comments:
Post a Comment