Rumah Kedua
by : Larassati Indah Permatasari
Ramaiii...
Itu yang kurasa setahun
lalu
Begitu hangat sapa di pagi hari oleh para pejuang ilmu Betul…
kadang
berat melangkah saat fajar datang
Namun, semua lenyap saat sampai di rumah
Rumah kedua tempat yang begitu ramai namun damai
Rumah
yang menjadi tempat semua bercengkerama
Aku rindu…
Suasana pagiku dengan panggilan suara merdu lonceng itu
Bertatap muka dengan ekspresi yang menggebu haus akan ilmu
Tapi semua berlalu, berlalu begitu saja karenamu
Kamu yang tiba-tiba
datang bagai debu setahun lalu
Kamu yang membuat
suasana ramaiku berubah jadi haru
Tak hanya di rumahku namun di seluruh duniaku
Sungguh kau tak punya malu
Jika boleh kuberkata padamu
Pergilah wahai debu
Karena kurindu rumah keduaku
Dia
by : Larassati Indah Permatasari
Terdengar langkah kaki menyusuri koridor sekolah
Bersorak nan lantang tanpa arah dari barat ke timur
Mereka bahagia, walau jelas terlihat raut wajah cemas
Cemas akan segudang materi baru yang akan muncul
Sewaktu masuk kelas
Apakah aku bisa? Apakah aku paham?
Yaa… sedikit pertanyaan santai lalu-lalang di benak mereka
Tidak semua merasa cemas
Bahkan ada yang malas untuk berkata
Ah… biar saja aku tak paham
Yang penting aku bisa tebahak-bahak dengan sejawat
Sekarang?
Namun sekarang semua semu
Hanya tinggal sisa jejak kaki dan segelintir harap yang memudar
Kami rindu akan tawa dan canda mereka
Kami rindu berdiri tegak di tengah ombak
Dengan segudang tanya yang kadang tak tentu setahun lalu
Namun sekarang semua berjarak
Terkungkung dalam sangkar bagai
burung Karena “dia” semua lenyap dalam sekejap
No comments:
Post a Comment