TUHAN
by : Rela Kusumasari
Tuhanku selalu di hati
Mengunjungimu
selalu kunanti
Suara adzan yang
berkumandang
Membuatku selalu
ingin datang
Mengembara mencari
keridhoan
Engkau selalu
membuatku tenang
Mampu menghapus
kegelisahan
Bersihkan noda diri
Ayat-ayatmu yang
merdu
Tentramkan sanubari
Kuhamparkan sajadah
Rasa rindu ingin menyapa-Mu
Suasana tenang menghilangkan
resah
Melepas kecintaanku pada-Mu
Kutengadahkan wajah
Memohon ampunan-Mu
Kuharap semua gundah
Tak membuatku
menghianati-Mu
Kuasa-Mu penuh
kasih sayang
Menambah
keyakinanku pada-Mu
Rindu hatiku
pada-Mu selalu
Aku tak bisa
berpaling
CATATAN HARIAN SEORANG PENGABDI
By : Rela Kusumasari
Seperempat jam sebelum pukul tujuh pagi
menjelang lonceng berbunyi
aku menapakkan kaki
di tempat mengabdi setiap hari
Sapa lembut dan ramah teriring
salam
terdengar dari mereka
yang selalu mengharap nasihat
dan bimbingan
Oh...betapa indah pagi ini
Lima belas menit berlalu
lonceng berdentang bertalu
mengusik... menggelitik dinding
telinga
Tadarus lantunan ayat-ayat
suci bergema
permohonan tambah ilmu iringi
doa-doa
kepada Yang Maha Kuasa
Detik demi detik, menit demi
menit berlalu
kubagi segala ilmu
kuberi segala yang kupunya
lewat kata-kata penuh makna
Mentari makin tinggi, semangat
kian membara
Tuntaskan tugas suci nan mulia
tanpa pilih kasih, mana si
kaya, mana si papa
Diseling canda dan tawa
senyum manis, senyum kecut, dan senyum
tawar
Terselip khilap dan alfa
wajah murka berselimut amarah terpancar
Kata-kata manis, kata-kata
bijak mesti kutuang
bagi mereka... anak-anakku yang
memang mesti kusayang
Tapi caci maki sumpah serapah
terkadang datang
bahkan tak jarang tangan pun
ikut melayang
Saat mentari melewati batas
ubun-ubun
jauh condong ke arah barat
lonceng berbunyi pertanda
bebas semua beban
lunaslah sudah amanah berat
Sorak meriah mulut-mulut
mungil nan lugu
membahana pertanda lega
Satu-satu tinggalkan meja dan
bangku
dengan wajah suka cita
Ruang kelas terasa sunyi
... sepi ...
Tepekur kududuk sendiri
Termenung... sudut hati
mengevaluasi diri
Esok hari terulang lagi... esok hari terulang lagi
Terus... terulang lagi
Entah sampai kapan?
by : Rela Kusumasari
Kini jarakku padamu
terhalang waktu
Kuingat dulu
pertama ku mengenalmu
Aku begitu
terpesona padamu
Sekian
tahun berlalu
Mengapa engkau berubah?
Engkau tidak seperti yang dulu
Yang asri dan indah
Tangan-tangan jahil telah merusakmu
Menjadikanmu begitu rupa
Aku rindu Garutku yang dulu
Tempatku melepas gundah gulana
Garutku yang asri telah
sirna
Digerus kepentingan
dunia
Garutku yang selalu
kucinta
Kini membuatku merana
Garut....
Mana Garutku
yang dulu?
Tempatku
menghabiskan sebagian kisahku
Yang penuh
nyanyian merdu
Garutku...
Aku berharap di sisa
hidupku kelak
Aku akan dapat mengisi
ruang-ruangmu lagi
Seperti dulu saat kita
memadu rindu
Walau kau tak
seperti dulu lagi
Aku akan tetap
menemanimu...
No comments:
Post a Comment