by : Claresta Zemma Rahmatunnisa Ismail
Harapan itu mulai musnah
Ditelan ego nan jumawa
Langkahku terlihat sia sia
Kerja kerasku bagaikan angin lewat semata
Keringat yang membasahi tubuhku tak ada gunanya
Harapan yang dimiliki hanya
sekadar fatamorgana
Haruskah aku berhenti?
Haruskah
aku terus melangkah untuk meraih harapan yang terpatahkan?
Mentari yang terbit ‘pun hanya menoreh
luka
kini semua telah sirna
diri ini mencoba menerima kenyataan
meskipun pahit, akan tetap kujalani
Rapuh
Raga yang begitu rapuh
Menatap sepi bayang bayang hampa
Hilang ditelan gelapnya malam
Senyum nan elok perlahan sirna
Menghilang bersama dengan
raganya yang rapuh
Kesedihannya terlalu
sepi
Berkawan dengan
sunyi, tanpa ada raga yang menemani
Raga yang rapuh itu ditelan sunyi
Hancur di dalam genggaman
Meninggalkan secercah harapan
Dengan jiwa yang berharap menyatu
by: Claresta Zemma R. Ismail
Aku terduduk di tepi pusara
Di bawah pesona
sandyakala
Menggoreskan pena lewat untaian kata
Merangkai aksara penuh makna
Bunda...
Dikau memang tidak bisa menua bersamaku
Ku tak dapat melihat paras ayumu
Dikau tidak selalu ada dalam setiap langkahku
Namun, kuyakin
engkau sangat menyayangiku
Bunda...
Aku sedih tanpa kehadiranmu
Aku berjuang meneguhkan jiwaku
Menggapai asa meraih citaku
Agar kelak
engkau bangga dengan
anakmu
Syair
ini kutuliskan untukmu Bait-bait rindu yang terbelenggu Serta harapan untuk
bertemu Dirimu selalu ada di lubuk hatiku
Ku sebut
namamu dalam setiap
doaku
No comments:
Post a Comment