Thursday, November 13, 2025

Cerpen Guru (Nursalmah Nadeak)

 


Hijrah Sakinah

by: Nursalmah Nadeak


Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing di negeri orang. Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam.

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangnya. Biji emas takmada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya sebelum ditambang.

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya. Jika biji memisahkan diri dari tanah, barulah ia dihargai sebagai emas murni.

            Syair Imam Syafi’i  di atas merupakan suatu motivasi  pentingnya merantau atau hijrah dari kampung halaman untuk mencari ilmu mengejar sebuah  kebaikan. Setelah lulus SMA, hidup membawaku ke persimpangan sunyi. Sejak kecil cita-citaku ingin menjadi bidan, tapi aku tidak lulus tes kesehatan. Di hari terakhir pendaftaran SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru), aku mencoba daftar dan memilih UNJA. Setelah melihat pengumuman di koran, namaku tertulis disana sebagai calon mahasiswa baru. Kota Jambi, tanah asing yang belum pernah kusentuh, menanti di ujung perjalanan sehari semalam. Di sanubari, ragu tumbuh seperti kabut pagi. Aku tak punya siapa-siapa di sana. Tak ada pelukan keluarga dan tak ada wajah yang kukenal.

Ibuku berusaha meyakinkanku dengan mata yang menyimpan samudra kasih. Keluarga besar yang mengelilingiku seperti pelita, meniupkan semangat ke dalam jiwaku yang gamang. Mereka tak hanya memberi restu, tapi juga beka berupa nasihat-nasihat sederhana yang kelak menjadi kompas di negeri orang. Dan entah bagaimana, dari celah keraguan itu, tumbuhlah keberanian. Aku pun mengangguk pada takdir, siap melangkah.

Hari keberangkatan tiba. Ibu menggandeng tanganku menuju bus ALS yang akan membawaku jauh dari rumah. Di halte bus antar pulau Sumatera, waktu seakan melambat. Adikku, yang selama ini menjadi bayang-bayang setiaku, tak kuasa menahan air mata. Matanya merah, suaranya tercekat. Ia memelukku erat, seolah tak ingin melepaskan. Dalam pelukannya, aku berjanji  akan sering mengirim kabar, lewat surat atau suara di ujung telepon.

Di tengah keramaian yang muram, mataku menangkap sosok lain. Seorang ibu yang menangis diam-diam. Di sampingnya, seorang pemuda duduk membisu. Matanya sembab, sesekali ia tersedu. Ibuku menyapanya dengan kelembutan khas seorang ibu. Dari percakapan singkat itu, kutahu namanya Markus dari Pulau Samosir. Ia pun merantau, sendirian. Ibunya tak bisa mengantarnya karena ayahnya sedang sakit. Di bawah langit yang mulai gelap, roda bus mulai berputar. Aku menatap ke luar jendela, meninggalkan rumah, namun membawa cinta yang tak pernah akan kutinggalkan.

Dengan wajah penuh harap dan langkah tak kenal lelah, ibu menyusuri lorong-lorong informasi panitia penerimaan mahasiswa baru. Ia bertanya dan mencatat semua informasi demi satu tujuan untuk menemukan tempat kos yang layak, yang teduh dan aman untuk anak gadisnya yang akan merantau jauh dari pelukannya.

Para aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi datang silih berganti, menawarkan pondokan dan harapan. Dengan tutur santun dan senyum ramah, mereka menjelaskan proses pendaftaran ulang, membuka jalan bagi kami yang baru menjejak dunia kampus. Akhirnya, aku tinggal di sebuah pondokan sederhana yang bernama Saffanah, bersama mbak-mbak berjilbab besar yang wajahnya tenang seperti pagi hari. Letaknya tak jauh dari kampus, hanya lima belas menit berjalan kaki, menyusuri jalanan yang mulai akrab di mata. Mamak merasa tenang, hatinya lebih damai karena aku berada di tengah perempuan-perempuan yang menjaga adab dan diri.

Beberapa hari di Jambi, ibu pulang ke kampung. Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang perlahan menjauh membawa serta kehangatan rumah. Di negeri orang, aku merasa asing. Sepi merambat pelan, menyelinap di sela-sela waktu. Namun pesan ibu terus bergema di telingaku, seperti doa yang tak pernah putus:

"Azizah, harus pandai menjaga diri dan menyesuaikan diri. Di mana langit dijunjung, di situ bumi dipijak."

Di kelas, ada dua puluh lima mahasiswa yang dating dari berbagai propinsi di Indonesia. Warna-warni bahasa dan budaya berpadu dalam satu ruang belajar. Ketua tingkat kami, yang akrab dipanggil kating, bertanya dengan logat khasnya:

"Budak-budak ko wong mano bae?"

Dia berasal dari kota Empek-empek, tempat sungai dan rasa berpadu dalam cita. Tapi telingaku yang belum terbiasa menangkap kata "budak" seperti tamparan. Di daerahku, kata itu berarti pembantu, rendahan yang tak layak disandingkan dengan teman.

Aku tersinggung, marah, dan mengomel. Tapi ia hanya tertawa, ringan seperti angin sore. Dengan sabar ia menjelaskan, bahwa di tanah kelahirannya, "budak" adalah panggilan akrab, penuh kasih, untuk teman dan saudara. Di sanalah aku belajar bahwa kata bisa bermakna lain di tanah yang berbeda. Bahwa hati harus lapang dan telinga harus bijak. Di negeri orang, aku bukan hanya belajar ilmu tapi juga belajar menjadi manusia.

Di sebuah pondokan kecil, kami tinggal bersama sepuluh mahasiswa. Kami datang dari berbagai penjuru negeri dengan logat, kisah dan karakter masing-masing. Setiap dari kami adalah dunia yang berbeda dengan kebiasaan yang tak serupa dan cara mencintai hidup yang tak sama.

Aku masih sering membuka jilbab, masih meraba-raba makna iman dan arah kiblat hati. Aku tinggal di antara empat kamar yang sempit namun penuh gema. Ada kamar berisi empat, ada pula yang bertiga. Namun sunyi tetap terasa, meski ramai suara.

Tinggal di pondokan ini, seperti hidup dalam bingkai kaca. Segalanya diatur, dari mata terbuka hingga mata terpejam. Ada etika untuk setiap gerak. Dari hal yang kuanggap remeh, hingga yang membuat dada sesak.

Keluar rumah? Harus berjilbab. Sholat? Wajib berjamaah, kita bergantian menjadi imam dan membaca Al-matsurat dzikir pagi dan petang. Musik? Tak boleh menggelegar, cukup berbisik di telinga sendiri. Piket kebersihan dan memasak yang bergiliran setiap hari. Tidak boleh bawa teman cowok ke dalam rumah, meskipun hanya diskusi tugas. Sebelum magrib, semua penghuni pondokan sudah ada di rumah dan siap untuk sholat bersma. Dan seabrek aturan lain yang terasa seperti rantai di kaki. Baru sebulan, tapi rasanya seperti setahun terpenjara dalam waktu. Tapi ada membuatku menarik adalah keramahan dan rasa persaudaraan yang sangat kuat. Bila ada yang sakit, semuanya mendoakan dan jika ada yang butuh bantuan, maka setiap orang  bersedia membantu tanpa diminta.

Aku merasa kurang betah tinggal di pondokan. Aku mulai mencari tempat lain. Kos yang membebaskan, tak mengekang langkah dan suara hati. Dua kali aku mencoba pergi, dua kali pula semesta menahanku. Pertama, uang yang telah kubayar tak bisa kembali. Ibuku sudah membayarnya dengan penuh dan peluh. Jika ingin keluar, aku harus mencari penggantiku. Seseorang yang mau berjilbab dan bersosialisasi dengan semua konsekuensi tinggal di pondokan. Syarat yang ternyata lebih sulit dari yang kukira.

Kedua, aku sudah menemukan tempat yang kuimpikan. Harganya lumayan murah. Kos yang sunyi, bebas, dan sesuai dengan jiwaku. Namun aku kalah cepat. Tempat itu kini dihuni orang lain dan aku kembali lagi ke pondokan Saffanah. Aku merasakan hati yang makin berat dan langkah yang makin pelan.

Dalam diam, aku bertanya pada langit-langit kamar. Mengapa begitu sedikit mahasiswi yang mau tinggal di pondokan? Apakah mereka juga merasa seperti aku? Terjebak dalam aturan yang tak memberi ruang untuk berekpresi? Atau mungkin, hanya aku yang belum siap hidup dalam bingkai yang sama?

Kabar tentang kos murah yang dekat kampus datang seperti angin sejuk di siang terik. Seorang teman menyelipkan harapan dalam obrolan ringan dan aku pun tergoda. Sore itu, langkahku menuju ATM penuh semangat, membayangkan lembaran rupiah yang akan mengantar mimpi ke tempat baru. Namun layar ATM menampilkan kenyataan yang pahit, saldo tak cukup. Kiriman belum datang. Aku terdiam, lalu buru-buru menelpon ibu.

Suaranya menyapa, hangat seperti biasa, tapi kali ini ada getar yang tak biasa kudengar. Aku bercerita tentang banyak hal mulai dari teman-teman,  tugas kuliah dan tentang harapanku. Lalu pelan-pelan, aku utarakan soal dana. Ibu mendengarkan, lalu menjawab dengan janji bahwa uang bulanan akan segera dikirim. Beliau paham maksudku, seperti saat kelas 3 SMA aku ngekos dekat sekolah karena jarak rumah dengan sekolah yang lumayan jauh dan kegiatan sekolah yang padat.

Tapi menurutku, suara ibu agak berat. Seperti menyimpan lelah yang tak ingin dibagi denganku. Ibu memang begitu, tak pernah ingin membebani anak-anaknya dengan luka yang disimpan sendiri. Aku tak berani cerita soal rencana pindah kos. Terlalu banyak beban yang sudah beliau pikul.

Tiga hari berturut-turut aku kembali ke ATM, berharap layar itu berubah. Tapi tetap sama. Kosan baru sudah kutempati seminggu, dan bayaran belum kutunaikan. Rasa tak enak mulai menyelimuti, terutama pada pemilik rumah dan penjaga kos. Akhirnya, aku menghubungi kakak yang sudah berkeluarga. Dengan semangat, aku bercerita tentang perantauan dan kos baru. Kakak mendengarkan dengan tenang, lalu mulai bercerita kondisi keluarga di kampung halaman. Abang yang sebentar lagi lulus kuliah. Adik yang ingin masuk sekolah favorit. Keadaan  ibu yang kesehatannya sering terganggu dan ayahku yang telah pensiun saat aku lulus SMP. Hasil ladang dan sawah yang hasilnya tak lagi seperti dulu.

"Azizah kan tahu, keadaan kita sekarang tak semudah dulu. Kalau dulu, keuangan lumayan dan apapun yang diminta pasti langsung ada. Kamu harus cerdas dalam mengelola uang kiriman dan berjuanglah dengan gigih" katanya pelan.

Aku terdiam. Di antara ATM yang tak memberi dan suara keluarga yang menyimpan luka. Aku belajar satu hal bahwa perjuangan bukan hanya soal uang dan tempat tinggal. Tapi juga tentang memahami diam, membaca rindu dan mencintai dalam keterbatasan. Rasanya sedih ini tak bertepi. Saat tutur kakak mengalun lirih, menyentuh relung hati yang rapuh. Tanpa aba-aba, air mataku jatuh perlahan, seperti hujan yang malu-malu menyapa bumi.

"Azizah, belajarlah berhemat… kelola uangmu dengan bijak." Suara itu menggema, menembus dinding batin yang mulai retak. "Carilah tambahan, mengajar privat, atau mengaji… Siapa tahu kiriman dari kampung tersendat, atau tak lagi dating. Merantau jauh adalah pilihan, maka tanggung jawab adalah teman yang tak boleh kau tinggalkan. Jangan mudah menyerah, meski jalan terasa curam dan sunyi”

Aku terdiam. Lidah kelu, hati beku. Duduk termenung dalam lelah yang tak terlihat. "What should I do?" bisikku, pada langit-langit kamar kos yang baru.

Tiba-tiba, hadir sosok yang tak terduga. Teman kos baruk, Nadia yang ramah dan peduli seperti embun di pagi yang gersang. Meski aku tak mampu bercerita, dia bisa merasakan kegalauan yang bersemayam di dadaku.

"Sudah sholat Ashar belum?" Suara lembutnya menusuk kesadaran. "Segeralah sholat… curhatkan semua isi hati dan masalahmu pada Allah. Baca Al-Qur’an, agar hatimu tenang", ucapnya.

Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku bergegas wudhu, lalu sholat. Tangisku pecah  tersedu-sedu. Air mata mengalir deras, membasahi sajadah yang menjadi saksi. Penyesalan datang bertubi-tubi. Kenapa dulu aku menolak pesantren seperti saudaraku? Kenapa aku begitu keras kepala?

Kenangan masa lalu berputar seperti film usang, menayangkan pilihan-pilihan yang kini terasa keliru. Aku lebih memilih sekolah negeri, menjauh dari ilmu agama. Meski ayahku seorang muallaf, dengan tekad baja menyekolahkan kelima saudaraku di pesantren. Beberapa kali orangtua dan saudaraku membujuk agar aku masuk pesantren saat SMP atau SMA tapi aku menolaknya. Aku memilih jalan lain. Kini aku bertanya-tanya, apakah aku telah tersesat

Di antara saudara-saudaraku, yang tekun bersujud dan lantang melantunkan ayat suci, akulah yang paling tertinggal. Bacaan Al-Qur’anku masih tersendat, patah-patah seperti ranting kering ditiup angin. Sholatku kadang hadir, kadang hilang, seperti bulan yang malu-malu menampakkan diri di balik awan. Jilbabku pun belum setia, masih kutanggalkan sesuka hati. Seolah malu menjadi perisai.

  Saat Ramadhan datang, mereka berlomba mengkhatamnkan lembar demi lembar mushaf Al-Qur’an. Mereka berkejaran dengan waktu, mengejar ridha dan hadiah kecil dari ibu. Biasanya ibu akan memberikan hadiah bagi yang bacaan Al-Qur’annya paling banyak selama bulan puasa. Sedang aku, hanya mampu menyelesaikan beberapa juz, berjalan pelan di tengah hiruk-pikuk semangat mereka yang membara.

Sejak usia dua tahun sampai SMP, aku diasuh bibi, adik ayahku yang belum dikaruniai anak. Hidup bersamanya seperti tinggal di taman yang tak pernah kekurangan bunga. Segala keinginanku tumbuh dan mekar, tanpa pernah dipangkas. Aku dimanja, dibuai kenyamanan, hingga lupa cara berdiri sendiri. Aku tumbuh dalam pelukan yang cukup hangat. Aku lupa bahwa hidup bukan sekadar menerima, tapi juga tentang berjuang, terjatuh dan bangkit kembali.

Barulah saat merantau, aku terbangun dari mimpi panjang. Kebebasan yang dulu kupuja, ternyata datang bersama beban yang tak ringan. Tak ada lagi tangan yang sigap memenuhi keinginan, tak ada lagi pelindung dari kerasnya dunia. Kini aku tahu, bahwa hidup bukan hanya tentang berjalan di jalan yang mudah, tapi tentang menapaki jalan terjal dengan hati yang kuat. Aku harus belajar kembali melangkah menuju cahaya yang dulu sempat redup dalam diriku.

Kini kurasakan benar betapa getirnya hidup, saat kiriman uang datang dengan jumlah yang nyaris tak cukup. Di situlah aku belajar, bahwa berhemat bukan lagi pilihan melainkan kewajiban yang harus kupeluk erat.

Hidup sendiri di tanah rantau mengajarkanku menjadi murid dari segala arah. Ilmu tak hanya datang dari lembaran buku teks, tapi juga dari tumpukan cucian yang menanti, dari sisa receh di dompet yang seolah menertawakanku. Makan pun tak lagi teratur, terkadang hanya sebatas harapan, karena uang telah lebih dulu habis sebelum hari-hari selesai kujalani. Belum lagi diktat kuliah dan tugas-tugas yang menuntut biaya, seolah tak peduli pada isi kantong yang kian menipis.

Akhirnya, dengan hati yang berat namun penuh tekad, kuputuskan kembali ke pondokan Saffanah, kos tempat yang dulu kutinggalkan demi gengsi. Di sana, biaya hidup lebih bersahabat dan makan bisa kami siasati Bersama dengan memasak bergiliran, membersihkan kamar mandi dengan jadwal piket yang tak bisa ditawar.

Namun keputusan ini bukan tanpa beban. Dalam benakku, bayangan tawa sinis dan cibiran teman-teman pondokan menghantui. Aku menelan egoku, menundukkan rasa malu yang menggumpal di dada. Kusiapkan mental, seolah hendak berperang dengan pandangan yang mungkin menghakimi.

Tapi ternyata, mereka memberiku kejutan yang manis. Mereka  semua menyambutku bukan dengan ejekan, melainkan dengan pelukan hangat dan senyum tulus. Dukungan mereka mengalir seperti air jernih yang menyejukkan luka. Air mataku jatuh, bukan karena sedih, tapi karena haru yang tak tertahankan.

Di balik tembok sederhana kosan itu, aku menemukan lebih dari hanya sekadar tempat tinggal. Aku menemukan keluarga yang tak sedarah tapi sejiwa. Di tanah perantauan yang keras, mereka menjadi pelita yang menuntunku pulang ke dalam makna hidup yang sesungguhnya.

Sejak hari itu, tak lagi terasa berat membalut diri dengan jilbab yang rapi. Justru, ada ketenangan yang meresap perlahan, seperti embun pagi yang menyentuh hati. Keingintahuanku tentang agama tumbuh seperti tunas yang haus cahaya. Aku mulai suka menghadiri kajian-kajian yang menyejukkan jiwa tentang manajemen diri, manajemen waktu, dan jalan menuju kesuksesan dunia-akhirat. Hidupku kini terasa lebih terarah, dan hatiku lebih damai dari sebelumnya.

Pertanyaan yang dulu menggelayut di benakku kini telah menemukan jawabannya. Mengapa banyak mahasiswa memilih kosan yang bebas? Mungkin karena mereka belum merasakan indahnya tinggal di pondokan, tempat di mana jiwa lebih terjaga dan ukhuwah tumbuh dalam pelukan takwa.

Di sanalah aku menemukan nikmatnya persaudaraan. Bersama Mbak Safira, teman kosku yang muallaf menjadi jembatan takdir. Aku mendapat tawaran mengajar les privat Bahasa Inggris dan menjadi guru di Sekolah Dasar. Tanpa ragu, kutulis surat lamaran dengan tangan gemetar namun hati mantap. Nilai IP semester pertamaku cukup meyakinkan dan tanpa mengganggu jadwal kuliah, aku diterima.

Sore hariku kini terisi dengan mengajar. Setiap huruf yang kuajarkan dan setiap sen yang kudapat menjadi bekal untuk kuliahku. Aku bukan hanya mendapatkan materi, tapi juga sebagai pelajaran hidup.

Segala yang kulalui membentukku menjadi insan yang berbeda. Aku bukan lagi aku yang dulu. Ada rasa manis dalam perjuangan, ada haru dalam setiap hasil yang baik. Dan yang paling membahagiakan, rasa percaya diriku yang sempat runtuh, kini tumbuh kembali dan lebih kokoh dari sebelumnya. Benarlah apa yang Allah sampaikan lewat surat cintanya dalam Al-Quran surat Al-Insyirah ayat 5-6 :

“Fa-inna ma’al ‘usri Yusran. Inna ma’al ‘usri yusran.”

“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Allah menyebutkannya sampai dua kali. Aku menjadi semakin yakin, setiap aku sanggup menghadapi  satu kesulitan maka Allah pasti akan memberikan dua kemudahan.

No comments:

Post a Comment

Cerpen Siswa (Kaisan Althaf Farand)

  PULIH by: Kaisan Althaf Farand        Dulu, di sebuah desa yang tenang, tinggallah seorang anak bernama Kazhelta Fitrand Darsa , atau yang...