Tuesday, November 18, 2025

Cerpen Guru (Nursalmah Nadeak)

 


IMAH DAN IZAZ

by: Nursalmah Nadeak


Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan

pahala atas mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar : 10)


“Bu… auuu… mo… uuum… bu… auu… uumm…” Suara itu menggema dari ruang depan, memanggilku dengan penuh semangat. Aku yang sedang sibuk menyuci baju di kamar mandi segera menghentikan gerakan tanganku. Itu suara Imah, putriku.

        “Mau jamu, Imah?” sahut Bu Ifah, tetangga depan rumah yang kebetulan sedang membeli jamu dari Bude jamu langganan.

        “Iiiyaa…” jawab Imah dengan senyum merekah, meski kata-katanya terdengar terbata.

        “Mau jamu apa, Neng?” tanya Bude jamu sambil menatap lembut wajah mungil putriku.

        Aku buru-buru keluar, tangan masih basah oleh sabun. Gelas segera kuambil, khawatir mereka tak sepenuhnya memahami maksud ucapan Imah. Bagiku, setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah permata, meski tak selalu mudah dimengerti orang lain.

    Imah atau nama lengkapnya Rohimah, adalah putri pertamaku. Ia berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Cara bicaranya tidak jelas, langkah kakinya pun tak sekuat teman-temannya. Namun wajahnya begitu cantik, kulitnya putih bersih, dan matanya selalu berkilau penuh kehidupan.

    Aku masih ingat jelas hari kelahirannya. Kandunganku sudah lewat dua minggu dari perkiraan dokter. Aku berharap bisa melahirkan normal di klinik, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Namun takdir berkata lain. Saat proses persalinan, yang pertama keluar justru tali plasenta, bukan kepala bayi. Bidan panik, lalu segera merujukku ke rumah sakit.

    Operasi sesar pun dilakukan. Bayiku lahir dengan berat hanya dua kilogram. Tangisnya terdengar, sama seperti bayi lain, tapi tubuh mungilnya harus masuk inkubator. Aku pulang lebih dulu, sementara ia harus dirawat intensif selama dua minggu. Rasanya hati ini hancur, meninggalkan buah hati di rumah sakit.

     Namun aku percaya, doa-doa yang kupanjatkan setiap malam akan menjadi pelindungnya. Aku selalu berdoa agar ia tumbuh sehat, sholehah, dan kuat menghadapi dunia.

       Kini, setiap kali Imah memanggilku dengan suara khasnya, aku merasa dunia ini lebih indah. Meski ucapannya tak selalu jelas, aku tahu maksud hatinya. Seperti hari ini, ketika ia ingin segelas jamu dari Bude.

        Aku menyerahkan gelas itu padanya. Imah tersenyum, matanya berbinar. Senyum itu adalah hadiah terbesar dalam hidupku.

        Di balik segala keterbatasannya, Imah mengajarkanku arti kesabaran, ketulusan, dan cinta yang tak pernah mengenal syarat.

                                                                        #        #        #

        Allah sedang menguji keluargaku melalui kehadiran Imah. Ia adalah titipan berharga yang harus kami rawat dengan penuh kasih, meski berbeda dari anak-anak lain. Setiap anak adalah amanah, dan aku serta suami tidak boleh merasa kecewa atas ketetapan yang telah Allah berikan.

     Sejak dokter mengizinkan Imah pulang dari rumah sakit, hampir seluruh waktuku tercurah untuknya. Tangisnya sering pecah begitu keras, sulit ditenangkan. Memasuki usia empat bulan, ia belum menunjukkan perkembangan seperti bayi seusianya. Berat badannya hanya bertambah sedikit, tubuhnya tetap kecil. Kata dokter, Imah tampak seperti anak yang kekurangan gizi. Padahal aku selalu berusaha menjaga asupan makanan bergizi agar ASI mencukupi.

    Namun keterbatasan ekonomi membuat kami jarang bisa berkonsultasi ke dokter spesialis atau mengikuti terapi tumbuh kembang anak. Biaya yang besar menjadi penghalang. Aku hanya bisa berusaha sekuat tenaga dengan apa yang ada.

    Waktu berjalan dengan cepat. Hingga usianya setahun lebih, Imah belum mampu duduk, apalagi merangkak atau berjalan. Tangis dan tantrumnya sering membuatku lelah, tetapi aku tahu ia sedang berjuang dengan caranya sendiri. Kata dokter, Imah terkena sawan, perkembangan fisiknya tidak normal. Menjelang usia lima tahun, tubuhnya masih kecil, belum ada perubahan berarti. Kami sudah mencoba berbagai cara: pijat tradisional, terapi alternatif, hingga pengobatan medis. Semua itu menuntut kesabaran yang luar biasa.

      Ada saat-saat aku merasa sedih, terutama ketika orang lain bertanya tentang keadaannya. Namun aku dan suami berusaha tetap tegar. Kami percaya, di balik ujian ini ada hikmah yang Allah titipkan.

    Ketakutan sempat menyelimuti hatiku: bagaimana jika anak berikutnya lahir dengan kondisi yang sama? Tetapi Allah Maha Baik. Saat Imah berusia tujuh tahun, aku melahirkan seorang anak laki-laki sehat bernama Izaz. Kehadirannya membawa kebahagiaan baru di tengah keluarga kami. Waktu dan perhatian kini terbagi antara Imah dan Izaz.

    Kini, Imah telah berusia delapan belas tahun. Ia belum bisa berbicara dengan jelas, belum bisa berjalan, hanya mampu duduk atau merangkak. Jika ingin ke kamar mandi, ia harus dipapah atau menggunakan kursi roda. Meski begitu, Imah adalah anak yang ramah. Ia suka tersenyum, menyapa setiap orang yang lewat di depan rumah. Senyumnya adalah cahaya yang menghangatkan hati kami.

       Di balik segala keterbatasannya, Imah mengajarkan arti kesabaran, ketulusan, dan cinta tanpa syarat. Ia adalah pelangi di balik ujian, yang membuat kami semakin dekat kepada Allah dan semakin memahami makna kehidupan.

                                                                    #      #       #

     “Badan Izaz panas, jangan main keluar rumah ya,” ucapku lembut, menahan cemas. Izaz hanya mengangguk, meski aku tahu betapa ia senang bermain di luar bersama teman-temannya. Tahun ini ia duduk di kelas dua sekolah dasar, penuh semangat dan keceriaan.

    Aku berniat membawanya ke klinik, sebab musim demam berdarah sedang merebak. Dokter memberikan obat dan berpesan, “Kalau tidak ada perubahan, segera cek darah.” Aku mengangguk patuh, berharap panas itu segera reda.

        Awalnya, suhu tubuh Izaz turun. Tiga hari kemudian ia sudah berlari-lari lagi, tertawa seperti biasa. Namun di hari kelima, tubuhnya kembali hangat, perutnya sakit. Aku membawanya ke bidan, bukan ke klinik. Aku lupa pesan dokter tentang cek darah. Rasanya mustahil Izaz terkena DBD, karena ia selalu tampak ceria.

      Malam ketujuh, sejak pukul sepuluh, ia bolak-balik ke kamar mandi karena diare. Aku tak bisa tidur, hatiku diliputi kecemasan. Jam dua dini hari, aku dan suami membawanya ke RSUD dengan mobil kakakku.

        Rumah sakit penuh sesak oleh pasien DBD. Hasil pemeriksaan menunjukkan Izaz positif DBD, trombositnya sangat rendah. Ia dirawat di UGD, tanpa ruang perawatan yang layak. Tubuh mungilnya tampak lemah, matanya sayu. Aku hanya bisa duduk di sampingnya, menggenggam tangannya, berdoa agar Allah memberinya kesembuhan.

    Siang harinya, kami berencana memindahkannya ke rumah sakit lain. Namun Allah lebih menyayanginya. Di hadapanku, Izaz menghembuskan napas terakhir. Dunia seakan runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya, tubuhku gemetar, hati terasa hampa. Penyesalan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Rasanya semua seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan.

        Lebih dari sebulan setelah kepergian Izaz, aku jarang keluar rumah. Air mata menjadi teman setiap hari. Syukurlah orangtua dan keluarga besar selalu menghiburku. Imah, putri sulungku, dengan caranya sendiri berusaha membuatku tersenyum. Ia anak yang baik, tak pernah meminta macam-macam, selalu memahami keterbatasan orangtuanya.

      Beberapa bulan terakhir, aku mulai bangkit. Aku menghadiri pengajian ibu-ibu majelis taklim, membawa Imah ikut serta. Perlahan, aku belajar mengikhlaskan kepergian Izaz. Aku menyadari, kesabaran adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi cobaan hidup.

        Kini aku yakin, Allah selalu memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Imah adalah harta tak ternilai, titipan yang harus kujaga dengan sepenuh hati. Aku percaya, anak-anakku adalah anak sholeh dan sholehah yang kelak akan menuntunku menuju surga.

        Allah selalu menitipkan kelebihan di setiap kekurangan, dan kekuatan di setiap kelemahan. Dan aku, sebagai seorang ibu, akan terus belajar menerima, merawat, dan mencintai dengan sepenuh jiwa.

 

 

No comments:

Post a Comment

Cerpen Siswa (Kaisan Althaf Farand)

  PULIH by: Kaisan Althaf Farand        Dulu, di sebuah desa yang tenang, tinggallah seorang anak bernama Kazhelta Fitrand Darsa , atau yang...