IMAH DAN IZAZ
by: Nursalmah Nadeak
Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
pahala
atas mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar : 10)
“Bu… auuu… mo… uuum… bu… auu… uumm…” Suara itu menggema dari ruang depan, memanggilku dengan penuh semangat. Aku yang sedang sibuk menyuci baju di kamar mandi segera menghentikan gerakan tanganku. Itu suara Imah, putriku.
“Mau jamu, Imah?” sahut Bu Ifah,
tetangga depan rumah yang kebetulan sedang membeli jamu dari Bude jamu
langganan.
“Iiiyaa…” jawab Imah dengan
senyum merekah, meski kata-katanya terdengar terbata.
“Mau jamu apa, Neng?” tanya Bude
jamu sambil menatap lembut wajah mungil putriku.
Aku buru-buru keluar, tangan
masih basah oleh sabun. Gelas segera kuambil, khawatir mereka tak sepenuhnya
memahami maksud ucapan Imah. Bagiku, setiap kata yang keluar dari bibirnya
adalah permata, meski tak selalu mudah dimengerti orang lain.
Imah atau nama lengkapnya Rohimah,
adalah putri pertamaku. Ia berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Cara
bicaranya tidak jelas, langkah kakinya pun tak sekuat teman-temannya. Namun
wajahnya begitu cantik, kulitnya putih bersih, dan matanya selalu berkilau
penuh kehidupan.
Aku masih ingat jelas hari
kelahirannya. Kandunganku sudah lewat dua minggu dari perkiraan dokter. Aku
berharap bisa melahirkan normal di klinik, mengingat kondisi ekonomi keluarga
yang pas-pasan. Namun takdir berkata lain. Saat proses persalinan, yang pertama
keluar justru tali plasenta, bukan kepala bayi. Bidan panik, lalu segera
merujukku ke rumah sakit.
Operasi sesar pun dilakukan.
Bayiku lahir dengan berat hanya dua kilogram. Tangisnya terdengar, sama seperti
bayi lain, tapi tubuh mungilnya harus masuk inkubator. Aku pulang lebih dulu,
sementara ia harus dirawat intensif selama dua minggu. Rasanya hati ini hancur,
meninggalkan buah hati di rumah sakit.
Namun aku percaya, doa-doa yang
kupanjatkan setiap malam akan menjadi pelindungnya. Aku selalu berdoa agar ia
tumbuh sehat, sholehah, dan kuat menghadapi dunia.
Kini, setiap kali Imah
memanggilku dengan suara khasnya, aku merasa dunia ini lebih indah. Meski
ucapannya tak selalu jelas, aku tahu maksud hatinya. Seperti hari ini, ketika
ia ingin segelas jamu dari Bude.
Aku menyerahkan gelas itu
padanya. Imah tersenyum, matanya berbinar. Senyum itu adalah hadiah terbesar
dalam hidupku.
Di balik segala keterbatasannya,
Imah mengajarkanku arti kesabaran, ketulusan, dan cinta yang tak pernah
mengenal syarat.
# # #
Allah sedang menguji keluargaku melalui kehadiran Imah. Ia adalah titipan berharga yang harus
kami rawat dengan penuh kasih, meski berbeda dari anak-anak lain. Setiap anak
adalah amanah, dan aku serta suami tidak boleh merasa kecewa atas ketetapan
yang telah Allah berikan.
Sejak dokter mengizinkan
Imah pulang dari rumah sakit, hampir seluruh waktuku tercurah untuknya.
Tangisnya sering pecah begitu keras, sulit ditenangkan. Memasuki usia empat
bulan, ia belum menunjukkan perkembangan seperti bayi seusianya. Berat badannya
hanya bertambah sedikit, tubuhnya tetap kecil. Kata dokter, Imah tampak seperti
anak yang kekurangan gizi. Padahal aku selalu berusaha menjaga asupan makanan
bergizi agar ASI mencukupi.
Namun keterbatasan ekonomi
membuat kami jarang bisa berkonsultasi ke dokter spesialis atau mengikuti
terapi tumbuh kembang anak. Biaya yang besar menjadi penghalang. Aku hanya bisa
berusaha sekuat tenaga dengan apa yang ada.
Waktu berjalan dengan cepat. Hingga
usianya setahun lebih, Imah belum mampu duduk, apalagi merangkak atau berjalan.
Tangis dan tantrumnya sering membuatku lelah, tetapi aku tahu ia sedang
berjuang dengan caranya sendiri. Kata dokter, Imah terkena sawan, perkembangan fisiknya
tidak normal. Menjelang usia lima tahun, tubuhnya masih kecil, belum ada
perubahan berarti. Kami sudah mencoba berbagai cara: pijat tradisional, terapi
alternatif, hingga pengobatan medis. Semua itu menuntut kesabaran yang luar
biasa.
Ada saat-saat aku merasa
sedih, terutama ketika orang lain bertanya tentang keadaannya. Namun aku dan
suami berusaha tetap tegar. Kami percaya, di balik ujian ini ada hikmah yang
Allah titipkan.
Ketakutan sempat
menyelimuti hatiku: bagaimana jika anak berikutnya lahir dengan kondisi yang
sama? Tetapi Allah Maha Baik. Saat Imah berusia tujuh tahun, aku melahirkan
seorang anak laki-laki sehat bernama Izaz. Kehadirannya membawa kebahagiaan
baru di tengah keluarga kami. Waktu dan perhatian kini terbagi antara Imah dan
Izaz.
Kini, Imah telah berusia
delapan belas tahun. Ia belum bisa berbicara dengan jelas, belum bisa berjalan,
hanya mampu duduk atau merangkak. Jika ingin ke kamar mandi, ia harus dipapah
atau menggunakan kursi roda. Meski begitu, Imah adalah anak yang ramah. Ia suka
tersenyum, menyapa setiap orang yang lewat di depan rumah. Senyumnya adalah
cahaya yang menghangatkan hati kami.
Di balik segala
keterbatasannya, Imah mengajarkan arti kesabaran, ketulusan, dan cinta tanpa
syarat. Ia adalah pelangi di balik ujian, yang membuat kami semakin dekat
kepada Allah dan semakin memahami makna kehidupan.
# # #
Aku berniat membawanya ke
klinik, sebab musim demam berdarah sedang merebak. Dokter memberikan obat dan
berpesan, “Kalau tidak ada perubahan, segera cek darah.” Aku mengangguk patuh,
berharap panas itu segera reda.
Awalnya, suhu tubuh Izaz turun.
Tiga hari kemudian ia sudah berlari-lari lagi, tertawa seperti biasa. Namun di
hari kelima, tubuhnya kembali hangat, perutnya sakit. Aku membawanya ke bidan,
bukan ke klinik. Aku lupa pesan dokter tentang cek darah. Rasanya mustahil Izaz
terkena DBD, karena ia selalu tampak ceria.
Malam ketujuh, sejak pukul
sepuluh, ia bolak-balik ke kamar mandi karena diare. Aku tak bisa tidur, hatiku
diliputi kecemasan. Jam dua dini hari, aku dan suami membawanya ke RSUD dengan
mobil kakakku.
Rumah sakit penuh sesak oleh
pasien DBD. Hasil pemeriksaan menunjukkan Izaz positif DBD, trombositnya sangat
rendah. Ia dirawat di UGD, tanpa ruang perawatan yang layak. Tubuh mungilnya
tampak lemah, matanya sayu. Aku hanya bisa duduk di sampingnya, menggenggam
tangannya, berdoa agar Allah memberinya kesembuhan.
Siang harinya, kami berencana
memindahkannya ke rumah sakit lain. Namun Allah lebih menyayanginya. Di
hadapanku, Izaz menghembuskan napas terakhir. Dunia seakan runtuh. Aku menangis
sejadi-jadinya, tubuhku gemetar, hati terasa hampa. Penyesalan dan kesedihan
bercampur menjadi satu. Rasanya semua seperti mimpi buruk yang tak
berkesudahan.
Lebih dari sebulan setelah
kepergian Izaz, aku jarang keluar rumah. Air mata menjadi teman setiap hari.
Syukurlah orangtua dan keluarga besar selalu menghiburku. Imah, putri sulungku,
dengan caranya sendiri berusaha membuatku tersenyum. Ia anak yang baik, tak
pernah meminta macam-macam, selalu memahami keterbatasan orangtuanya.
Beberapa bulan terakhir, aku
mulai bangkit. Aku menghadiri pengajian ibu-ibu majelis taklim, membawa Imah
ikut serta. Perlahan, aku belajar mengikhlaskan kepergian Izaz. Aku menyadari,
kesabaran adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi cobaan hidup.
Kini aku yakin, Allah selalu
memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Imah adalah harta tak ternilai,
titipan yang harus kujaga dengan sepenuh hati. Aku percaya, anak-anakku adalah
anak sholeh dan sholehah yang kelak akan menuntunku menuju surga.
Allah selalu menitipkan
kelebihan di setiap kekurangan, dan kekuatan di setiap kelemahan. Dan aku,
sebagai seorang ibu, akan terus belajar menerima, merawat, dan mencintai dengan
sepenuh jiwa.
No comments:
Post a Comment