Thursday, November 20, 2025

Puisi Siswa (Oscar Susanto)

 


Bahasa Pemersatu Bangsa

by: Oscar Susanto


Sungguh indah bahasamu

Sehingga menjadi pedoman bangsa

Apabila bahasa Indonesia dipecah belah

Bagaimana nasib kami....

 

Kami bangga dengan bangsa Indonesia

Kami bertumpah darah yang Satu

kami menjunjung tinggi bahasa

Persatuan, yaitu bahasa Indonesia

 

28 Oktober memperingati Sumpah pemuda 

Pemuda-pemudi Indonesia membela negara 

Menciptakan bangsa dan bahasa 

Menjadi pemersatu bangsaku

 

Tidak ada yang lebih indah

dari bahasa indonesia

Karena itu, kami sebagai penerus bangsa

Harus menjaga serta melestarikannya

 


 


 

 

Wednesday, November 19, 2025

Puisi Siswa (Hanifah Azzahra)

 


BAHASA

by: Hanifah Azzahra

 

Dari Sabang berbisik kata

Ke Merauke mengalun makna

Satu suara menembus samudra

 Menaut hati nusantara

Bukan hanya huruf dan bunyi

Tapi jiwa yang menyatu rapi

Bahasa Indonesia...

Engkau pelita di tengah samudra perbedaan ini

 

Engkau bukan sekadar alat bicara

Tapi jembatan rasa antar jiwa manusia

Menyulam merah putih di dada

Menjadi bukti kita sebangsa

Setanah air tercinta

 

Di gunung, di pantai, kau hidup dalam tutur ibu,

dan janji suci

Menautkan lidah-lidah yang berbeda nada

Namun berpadu dalam satu cinta Indonesia

 

Oh Bahasa bangsaku

Putih maknanya, kau ajarkan hormat

Kau ajarkan cinta

Dalam setiap kata yang kita ucap

Tersimpan bersatu, maju, tekad, dan tegap


Tuesday, November 18, 2025

Cerpen Guru (Nursalmah Nadeak)

 


IMAH DAN IZAZ

by: Nursalmah Nadeak


Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan

pahala atas mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar : 10)


“Bu… auuu… mo… uuum… bu… auu… uumm…” Suara itu menggema dari ruang depan, memanggilku dengan penuh semangat. Aku yang sedang sibuk menyuci baju di kamar mandi segera menghentikan gerakan tanganku. Itu suara Imah, putriku.

        “Mau jamu, Imah?” sahut Bu Ifah, tetangga depan rumah yang kebetulan sedang membeli jamu dari Bude jamu langganan.

        “Iiiyaa…” jawab Imah dengan senyum merekah, meski kata-katanya terdengar terbata.

        “Mau jamu apa, Neng?” tanya Bude jamu sambil menatap lembut wajah mungil putriku.

        Aku buru-buru keluar, tangan masih basah oleh sabun. Gelas segera kuambil, khawatir mereka tak sepenuhnya memahami maksud ucapan Imah. Bagiku, setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah permata, meski tak selalu mudah dimengerti orang lain.

    Imah atau nama lengkapnya Rohimah, adalah putri pertamaku. Ia berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Cara bicaranya tidak jelas, langkah kakinya pun tak sekuat teman-temannya. Namun wajahnya begitu cantik, kulitnya putih bersih, dan matanya selalu berkilau penuh kehidupan.

    Aku masih ingat jelas hari kelahirannya. Kandunganku sudah lewat dua minggu dari perkiraan dokter. Aku berharap bisa melahirkan normal di klinik, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Namun takdir berkata lain. Saat proses persalinan, yang pertama keluar justru tali plasenta, bukan kepala bayi. Bidan panik, lalu segera merujukku ke rumah sakit.

    Operasi sesar pun dilakukan. Bayiku lahir dengan berat hanya dua kilogram. Tangisnya terdengar, sama seperti bayi lain, tapi tubuh mungilnya harus masuk inkubator. Aku pulang lebih dulu, sementara ia harus dirawat intensif selama dua minggu. Rasanya hati ini hancur, meninggalkan buah hati di rumah sakit.

     Namun aku percaya, doa-doa yang kupanjatkan setiap malam akan menjadi pelindungnya. Aku selalu berdoa agar ia tumbuh sehat, sholehah, dan kuat menghadapi dunia.

       Kini, setiap kali Imah memanggilku dengan suara khasnya, aku merasa dunia ini lebih indah. Meski ucapannya tak selalu jelas, aku tahu maksud hatinya. Seperti hari ini, ketika ia ingin segelas jamu dari Bude.

        Aku menyerahkan gelas itu padanya. Imah tersenyum, matanya berbinar. Senyum itu adalah hadiah terbesar dalam hidupku.

        Di balik segala keterbatasannya, Imah mengajarkanku arti kesabaran, ketulusan, dan cinta yang tak pernah mengenal syarat.

                                                                        #        #        #

        Allah sedang menguji keluargaku melalui kehadiran Imah. Ia adalah titipan berharga yang harus kami rawat dengan penuh kasih, meski berbeda dari anak-anak lain. Setiap anak adalah amanah, dan aku serta suami tidak boleh merasa kecewa atas ketetapan yang telah Allah berikan.

     Sejak dokter mengizinkan Imah pulang dari rumah sakit, hampir seluruh waktuku tercurah untuknya. Tangisnya sering pecah begitu keras, sulit ditenangkan. Memasuki usia empat bulan, ia belum menunjukkan perkembangan seperti bayi seusianya. Berat badannya hanya bertambah sedikit, tubuhnya tetap kecil. Kata dokter, Imah tampak seperti anak yang kekurangan gizi. Padahal aku selalu berusaha menjaga asupan makanan bergizi agar ASI mencukupi.

    Namun keterbatasan ekonomi membuat kami jarang bisa berkonsultasi ke dokter spesialis atau mengikuti terapi tumbuh kembang anak. Biaya yang besar menjadi penghalang. Aku hanya bisa berusaha sekuat tenaga dengan apa yang ada.

    Waktu berjalan dengan cepat. Hingga usianya setahun lebih, Imah belum mampu duduk, apalagi merangkak atau berjalan. Tangis dan tantrumnya sering membuatku lelah, tetapi aku tahu ia sedang berjuang dengan caranya sendiri. Kata dokter, Imah terkena sawan, perkembangan fisiknya tidak normal. Menjelang usia lima tahun, tubuhnya masih kecil, belum ada perubahan berarti. Kami sudah mencoba berbagai cara: pijat tradisional, terapi alternatif, hingga pengobatan medis. Semua itu menuntut kesabaran yang luar biasa.

      Ada saat-saat aku merasa sedih, terutama ketika orang lain bertanya tentang keadaannya. Namun aku dan suami berusaha tetap tegar. Kami percaya, di balik ujian ini ada hikmah yang Allah titipkan.

    Ketakutan sempat menyelimuti hatiku: bagaimana jika anak berikutnya lahir dengan kondisi yang sama? Tetapi Allah Maha Baik. Saat Imah berusia tujuh tahun, aku melahirkan seorang anak laki-laki sehat bernama Izaz. Kehadirannya membawa kebahagiaan baru di tengah keluarga kami. Waktu dan perhatian kini terbagi antara Imah dan Izaz.

    Kini, Imah telah berusia delapan belas tahun. Ia belum bisa berbicara dengan jelas, belum bisa berjalan, hanya mampu duduk atau merangkak. Jika ingin ke kamar mandi, ia harus dipapah atau menggunakan kursi roda. Meski begitu, Imah adalah anak yang ramah. Ia suka tersenyum, menyapa setiap orang yang lewat di depan rumah. Senyumnya adalah cahaya yang menghangatkan hati kami.

       Di balik segala keterbatasannya, Imah mengajarkan arti kesabaran, ketulusan, dan cinta tanpa syarat. Ia adalah pelangi di balik ujian, yang membuat kami semakin dekat kepada Allah dan semakin memahami makna kehidupan.

                                                                    #      #       #

     “Badan Izaz panas, jangan main keluar rumah ya,” ucapku lembut, menahan cemas. Izaz hanya mengangguk, meski aku tahu betapa ia senang bermain di luar bersama teman-temannya. Tahun ini ia duduk di kelas dua sekolah dasar, penuh semangat dan keceriaan.

    Aku berniat membawanya ke klinik, sebab musim demam berdarah sedang merebak. Dokter memberikan obat dan berpesan, “Kalau tidak ada perubahan, segera cek darah.” Aku mengangguk patuh, berharap panas itu segera reda.

        Awalnya, suhu tubuh Izaz turun. Tiga hari kemudian ia sudah berlari-lari lagi, tertawa seperti biasa. Namun di hari kelima, tubuhnya kembali hangat, perutnya sakit. Aku membawanya ke bidan, bukan ke klinik. Aku lupa pesan dokter tentang cek darah. Rasanya mustahil Izaz terkena DBD, karena ia selalu tampak ceria.

      Malam ketujuh, sejak pukul sepuluh, ia bolak-balik ke kamar mandi karena diare. Aku tak bisa tidur, hatiku diliputi kecemasan. Jam dua dini hari, aku dan suami membawanya ke RSUD dengan mobil kakakku.

        Rumah sakit penuh sesak oleh pasien DBD. Hasil pemeriksaan menunjukkan Izaz positif DBD, trombositnya sangat rendah. Ia dirawat di UGD, tanpa ruang perawatan yang layak. Tubuh mungilnya tampak lemah, matanya sayu. Aku hanya bisa duduk di sampingnya, menggenggam tangannya, berdoa agar Allah memberinya kesembuhan.

    Siang harinya, kami berencana memindahkannya ke rumah sakit lain. Namun Allah lebih menyayanginya. Di hadapanku, Izaz menghembuskan napas terakhir. Dunia seakan runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya, tubuhku gemetar, hati terasa hampa. Penyesalan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Rasanya semua seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan.

        Lebih dari sebulan setelah kepergian Izaz, aku jarang keluar rumah. Air mata menjadi teman setiap hari. Syukurlah orangtua dan keluarga besar selalu menghiburku. Imah, putri sulungku, dengan caranya sendiri berusaha membuatku tersenyum. Ia anak yang baik, tak pernah meminta macam-macam, selalu memahami keterbatasan orangtuanya.

      Beberapa bulan terakhir, aku mulai bangkit. Aku menghadiri pengajian ibu-ibu majelis taklim, membawa Imah ikut serta. Perlahan, aku belajar mengikhlaskan kepergian Izaz. Aku menyadari, kesabaran adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi cobaan hidup.

        Kini aku yakin, Allah selalu memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Imah adalah harta tak ternilai, titipan yang harus kujaga dengan sepenuh hati. Aku percaya, anak-anakku adalah anak sholeh dan sholehah yang kelak akan menuntunku menuju surga.

        Allah selalu menitipkan kelebihan di setiap kekurangan, dan kekuatan di setiap kelemahan. Dan aku, sebagai seorang ibu, akan terus belajar menerima, merawat, dan mencintai dengan sepenuh jiwa.

 

 

Puisi Siswa (May Setia Putri)

 


Sumpah yang Tak Lekang, Bahasa Indonesia Menjadi Pemersatu Bangsa

by: May Setia Putri


Di tengah suara yang riuh

Angin membisikkan sebuah persatuan

Yang hampir menghilang, karena gemuruh dari kericuhan

Tempat kata sering dipatahkan


Namun, dada kami bergetar

Seperti ada yang datang menyinari kami

 Tetapi bukan sinar matahari

Melainkan sebuah bahasa

 

Samar untuk didengar

Karena suara gemuruh menghancurkan kami

Sumpah yang tak lekang, meskipun musim berganti

Kami menerapkan bukan untuk dipuja

Melainkan agar tak hilang arah.


Bahasa kami tetap berdenyut

Seperti nadi di pergelangan bangsa

Kadang kebisingan ini membuat kami takut

Sama seperti persatuan ini akan pecah


Di tengah bahasa lain yang menenggelamkan kami

Kami berusaha menyalakan cahaya kecil

Meskipun kegelapan lebih kokoh untuk diberantas

 

Bahasa, kau kukenang dan kugunakan

Layaknya wajah ibuku dan perintah ibuku

Lembut, tetapi ditegaskan

Agar kami pulang setiap kali tersesat

 

Bahasa Indonesia, kau menjadi pemerkuat bangsa

 Layaknya fondasi bangsa Indonesia

Yaitu Pancasila dan bahasa kami

Seperti Bahasa Indonesia


Carpon Siswa (Haniah Hazairin Fikri )

 


Budak Anu Boga Sumanget Juang 

by: Haniah Hazairin Fikri

Ti sabuah desa aya budak namina rima, rima hirup reujeng bapa jeung indung na, rima budak kelas dua belas ti sakola SMA Anggar 2, di sakola na aktip milu loba organisasi, eskul, parlombaan jeung lainna. Rima teh budak nu caria, bageur jeung sopan ka sasaha wae. Rima teh salawasna nurut ka kolotna henteu pernah ngabantah senajan.

Hiji poe rima arek milarian beasiswa bakal asup ka universitas impianna, rima malarian tina hape jeung laptop, tapi ceuk indungna “ ulah berharap ka universitas rima, keja wae atuh “ kecap rima “ Ih ibu mah teu di dukung rima teh “ sambil merengek hayang ceurik , kecap si ibu “ hayu mantuan ibu nyieun lontong” kecap rima “ hayu atuh “ bari nunjukeun bengeut membleh.

Tapi rima teu pantang menyerah, rima tetep daftar universitas liwat link beasiswa nu aya, bari nyumput – nyumput henteu kasih tau ka indung jeung bap ana. Hiji poe di hari Ahad informasi beasiswa di umumkeun jam 12.00 beurang , rima ngabuka link eta bari deg-degan jeung kecap “ Bismillah “ tapi hasilna zonk alias teu ditarima pun ceurik bari ngomong ka bapa indungna, kecap indungna “ tah kan, ceuk ibu the naon “ rima pun ngabaikeun kecap ti indungna.

Tapi rima teu pantang memyerah,manehna nyoba deui daftar ulang di taun hareup ,tapi waktos ayeuna rima hayang menta doa restu ka kolot supaya asuk universitas impianna,kecap si rima “ibu abi hayang menta doa sami ibu supaya abi asuk universitas Impian abdi” kecap si ibu “heeh ibu ngadu’a keun anjeun asuk ka universitas Impian anjeun” kecap ibu jeung rima “amiin”.

    Bulan hareup pangumuman lolos atau henteu di universitas mawar beurem,rima ngabuka link tersebut hasilna ditarima, rima ka giranggan kecap si rima “Alhamdullilah gusti, abi ditarima ,yey ditarima,yey abi lolos”  kecap kolotna  “Alhamdullilah gusti nu agung, budak abi di tarima” kecap si rima “hatur nuhun ibu jeung bapa salawasna ngado’a keun abi”.

     Palajaran anu bisa di ambil tina carita di ata nyaeta: ulah pantang menyerah,sanajan di tolak sami sakolah atawa universitas.kamungkinan bukan rezeki anjeun bulan ieu,taon ieu,kamungkinan rezeki anjeun bulan hareup,taun hareup,dan harus menta do’a restu kolot,karna do’a kolot salalu di dengar tuhan.

 

 


Carpon Siswa (Yunna Dasniar)

 


BASA  ANU  LEUNGIT   DIANTARA  SORA

by: Yunna Dasniar


          Di hiji poé Minggu, di alun-alun leutik Lembur Ciparay, aya saurang nonoman ngaranna Ajon.                 Manéhna sok datang unggal Minggu pikeun nongkrong jeung babaturanana bari maén gitar jeung     nyanyi lagu-lagu  anyar. Basa nu dipaké sapopoéna ku maranéhna téh campur: aya basa Sunda, basa      Indonesia, jeung  saeutik basa Inggris.

“Bro, urang latihan deui, tapi lagu nu anyar atuh, nu trending di TikTok!” ceuk Ekin, sobatna.

Ajon ngangguk bari nyarengkeun gitar. “Oké, tapi ayeuna urang hayang cobaan hiji hal beda. Urang hayang nyieun lagu maké basa Sunda.”

Sagala jelema eureun saheulaanan bari nempo Ajon. Aya nu seuri.

“Eh, basa Sunda? Moal aya nu ngadéngé atuh, palingan dianggap kampungan,” ceuk salah sahiji sobatna nyaeta Ghian bari nyengir.

Ajon seuri leutik. “Nya, meureun. Tapi lamun urang sorangan teu ngajaga basa sorangan, saha deui? Lain kudu maksa, tapi sakali-kali hayu urang nyoba.”

Malemna, sanggeus ti alun-alun, Ajon balik ka imah. Manéhna tuluy nulis dina buku catetan: “Urang hayang ngahirupkeun deui basa urang, sanajan ngan dina lagu.”

Manéhna inget ka almarhum aki-na, anu sok nyarita maké basa Sunda halus, nepi ka ayeuna masih kadéngé dina ingetanana: “Ulah poho kana basa sorangan, sabab di ditu aya jati dirina.”

Peuting éta, Ajon nyieun lagu sederhana. Lirikna campur antara basa Sunda jeung basa Indonesia, tapi eusina jero, nyaritakeun ngeunaan nonoman anu ngimpi tapi henteu mopohokeun akar budayana.

Isukna, di alun-alun, Ajon mutuskeun pikeun nembongkeun lagu éta. “Judulna Lemes Dina Sora Kota,” ceuk Ajon bari seuri gugup.

Manéhna mimiti nyanyi. Sora lemesna ngagambarkeun kahaneutan lembur, jeung kecap-kecap Sunda nu jarang kadéngé ayeuna jadi nyusup kana hate nu ngadéngé.

          Sanggeus réngsé, teu disangka loba nu ngadéngé bungah. “Eh, keren pisan, Da! Jadi béda!” ceuk Ekin.

“Sok sanajan basa Sunda, tapi jadi leuwih nyentuh,” tambah Ghian bari tepuk tangan.

Ti harita, unggal minggu, kelompok Ajon sok maénkeun lagu-lagu anyar nu maké basa Sunda. Aya nu lucu, aya nu romantis, aya nu ngajarkeun hirup.

    Lamun aya nu nanya naha manéhna teu sieun dianggap teu modern, Ajon ngan ngajawab, “Modern téh lain hartina kudu mopohokeun akar. Basa téh cermin jiwa urang. Lamun urang leungit basa, urang leungit bagian tina diri sorangan.”

Tina harita, loba nonoman di lembur éta mimiti ngagunakeun deui basa Sunda dina sapopoé. Aya nu nulis puisi, aya nu nyieun vlog maké basa Sunda, malah aya nu ngadamel kaos kalimatna “Basa téh jati diri urang.”

Malam Minggu di alun-alun Ciparay henteu deui ngan tempat nongkrong. Ayeuna jadi tempat hirupna basa, di antara sora gitar jeung tawa para pamuda anu sadar yén basa téh lain ukur alat nyarita, tapi jembatan antara jaman baheula jeung masa

    

Cerpen Siswa (Kaisan Althaf Farand)

  PULIH by: Kaisan Althaf Farand        Dulu, di sebuah desa yang tenang, tinggallah seorang anak bernama Kazhelta Fitrand Darsa , atau yang...