BLESSING IN DISGUISE
by: Refine Zahida (Dari Kisah Nyata)
Maret 2020
Pada 2 Maret 2020, dua warga Kota Depok dinyatakan positif Covid-19. Tak lama kemudian Daerah Khusus Ibukota Jakarta menjadi Provinsi pertama yang menerapkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Mulai tanggal 10 sampai 23 April 2020. Kementerian Kesehatan pun mengumumkan akan diberlakukan PSBB di Depok mulai 15 hingga 28 April 2020. Selanjutnya PSBB diterapkan di berbagai daerah bahkan nyaris di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Fin, Pin, Pine. Itu nama panggilanku di antara teman-teman SMP. Sebenarnya aku lebih suka dipanggil Refin. Tapi apapun teman-teman memanggilku, selama itu baik dan menyenangkan aku juga senang. Suasana sejuk dan tenang pagi itu seketika hilang oleh kebisingan suara motor. Rupanya Abi sedang bersiap untuk mengantar Umi.
“Umi kenapa masih masuk ke sekolah? Harusnya kan di rumah saja. Kalau nanti tertular dan dites bisa-bisa diisolasi,” tanyaku dengan rasa penasaran.
“Mau bagaimana lagi. Guru tetap harus masuk sekolah. Dan Umi juga jualan, banyak pesanan yang harus diantar. Umi tetap memakai masker dan menerapkan social distancing dengan guru-guru lain,” jawab Umi sambil memakai sepatunya dan bersiap untuk berangkat.
Tak terasa, keadaan sudah berubah gara-gara pandemi. Istilah-istilah pun bermunculan. Mulai dari istilah yang lazim sampai istilah yang tidak lazim. Seperti mencuci tangan, pakai masker, rapid test, check point, covid-19, dan lain-lain.
Check point, itulah yang aku khawatirkan jika sedang bepergian. Waktu itu aku, Umi, dan Abi naik motor ke rumah nenek di Ciputat. Kami sudah menyiapkan Akte Kelahiran, KTP dan Kartu Keluarga. Benar saja, kami diberhentikan dan semua pengendara dicek oleh petugas. Aku segera melepas ketegangan, karena jika pengendara dan penumpang masih sekeluarga, itu tidak masalah. Alhamdulillah kami bisa melanjutkan perjalanan.
Libur lebaran telah usai, kini aku naik ke kelas 8. Masa pandemi menjadi penghalangku untuk bertemu dengan teman-teman. Aku tak bisa berkenalan dengan teman baru dan tak bisa belajar bersama di dalam ruang kelas. Kami hanya bisa tatap muka lewat layar handphone.
Mengikuti pembelajaran lewat Zoom memudahkanku belajar dari jarak jauh. Namun ada saja masalah yang mengganggu pembelajaran mulai dari jaringan yang tidak stabil, keadaan suara di Zoom yang berisik, dan suara guru yang putus- putus yang menyulitkan kami dalam memahami materi yang disampaikan. Tetapi semua masalah itu tidak akan mematahkan semangatku untuk belajar. Aku akan selalu membaca ulang materi dan meringkasnya di buku catatan.
September 2020
Aku dikejutkan dengan adanya notifikasi WhatsApp, yaitu pesan dari Bu Ega yang mengabarkanku tentang lomba menulis cerpen. Sebenarnya lomba itu sudah kutunggu sejak kelas 7 lalu saat aku baru masuk SMPN 20 Depok, namun tertunda karena pandemi ini.
“Refine, nanti kamu yang ikut lomba cerpen ya. Lumayan kan untuk mengisi waktu luang dengan hal yang tidak sia-sia,” kata Bu Ega.
Mendengar kabar itu, aku segera membuat cerpen dengan tema budaya. Yang sangat aku banggakan adalah saat mendapat kabar bahwa cerpen yang aku buat bisa masuk 10 besar. Senangnya bisa mengikuti babak final. Aku akan berusaha dan berdoa agar bisa juara.
Dan sampailah pada hari dimana aku mengikuti lomba penentuan pemenang secara daring. Entah kenapa di saat-saat penting seperti ini banyak kendala saat gabung google meet. Awalnya aku sudah menyerah dan pasrah, namun aku yakin ada cara lain. Akhirnya aku mencoba gabung google meet lewat handphone. Setelah itu aku bisa mengikuti lomba dengan lancar.
“Pokoknya saat membuat cerpennya fokus pada ketentuannya. Ceritanya mengalir saja dan selipkan hal-hal yang menarik dan unik sesuai tema,” pesan Abi memotivasi.
Waktu pengetikan adalah 4 jam. Waktu yang cukup banyak untuk menggali banyak cerita yang akan kutuangkan dalam sebuah cerpen. Tepat jam 12 siang, aku sudah selesai lomba dan sudah mengirimkan cerita pendek lewat link yang sudah disediakan.
Oktober 2020
Pada 25 November, aku mengambil hadiah berupa piala, sertifikat, dan sejumlah uang. Di saat itu aku sangat ingin membeli handphone dari uang yang aku dapat. Entah kenapa Umi tidak mengizinkan. Tapi Umi berpesan agar aku membelikan kue untuk guru-guru dengan uang yang kudapat. Aku harus sadar, jika bukan karena guru, apa bisa aku mengikuti lomba ini? Kue pun kuantar ke sekolah sebagai tanda terima kasih kepada guru.
Setelah menang lomba itu, aku mulai semangat untuk lanjut menulis novel. Sebelum ini aku sudah pernah membuat satu buku novel saat kelas 6, kini aku akan berusaha membuat novel yang kedua.
Di samping itu ada hal lain yang membuatku senang. Guruku menawarkan agar aku menyetorkan hafalan Al-Quran. Walau aku di sekolah negeri, semangatku untuk menghafal tidaklah sirna. Walau di Rohis hanya aku yang istiqomah menambah hafalan, aku akan tetap melanjutkannya.
Desember 2020
“Umi negatif,” pesan dari kakakku yang membuat hatiku lega.
Dengan cepat Umi bersama adikku datang ke tempat pernikahan di Hotel Savero. Beruntung acara resepsinya malam hari. Kabar baik itu membuatku percaya bahwa Allah SWT maha mendengar doa hamba-Nya.
19 Desember 2020
Besoknya, aku mulai membuat kenclengnya dan membuat video singkat cara membuatnya sesuai ketentuan. Malam harinya aku segera mengirim video dan foto kencleng di Instagram. Kini aku hanya tinggal menunggu waktu pengumuman dari panitia penyelenggara lomba, yaitu Adara Relief, lembaga yang peduli kaum perempuan dan anak.
Para pemenang lomba akan diumumkan lewat Zoom pada tanggal 24 Desember 2020. Dan lagi-lagi aku dikejutkan dengan terteranya namaku di juara 1 dalam lomba kreasi kencleng. Aku tak menyangka uang yang saat itu aku belikan kue kepada guru-guru, Allah SWT ganti 20 kali lipat.
Setelah kami mendapar kabar bahwa uang dari lomba kreasi kencleng sudah ditransfer, semua keluargaku sibuk memikirkan untuk apa uang itu. Umi dan Seva adikku sangat ingin sekali uangnya untuk mentraktir makanan. Tetapi kakakku sangat ingin jalan-jalan.
Aku yang sejak lama ingin membeli handphone segera mengusulkan apa yang aku inginkan dari uang yang kudapat. “Uangnya buat beli handphone saja ya. Jika sekolah masih daring, itulah yang sangat dibutuhkan. Barangkali hikmah sukses kecil ini bila dimanfaatkan dengan baik dan disyukuri akan berlanjut pada sukses besar,” jelasku dan berharap semua mengerti.
Akhirnya semua tidak jadi makan bersama, paling hanya membelikan cemilan ringan untuk dimakan bersama di rumah. Itupun sudah terasa nikmat bila disyukuri dan saling mengerti. Selalu ada hikmah di balik musibah seperti masa pandemi ini aku semakin menemukan bakat dan kemampuanku secara akademik maupun non akademik.
Yang selama ini aku pikir tentang pandemi yang membosankan, sama sekali tidak seperti yang aku bayangkan. Di saat pandemi inilah aku sudah menambah hafalan 1 juz, mulai menulis novel, ikut lomba, dan aku juga ikut proyek buku antologi puisi yang diadakan sekolahku. Waktu yang aku lewati seakan sangat berharga bagiku.
Ya benar istilahnya; blessing in disguise, selalu ada berkah tersembunyi dalam kondisi sesulit apapun. Atau dalam Al-Qur’an; sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya kenikmatan hidup itu benar- benar dirasakan setelah kita berusaha dan bersusah-payah.
No comments:
Post a Comment